Suatu Sore di Suatu Tempat
Diam sore itu mengusik hati
Ilusi berpuluh tahun kembali segar
Layaknya pertunjukkan layar tancap
Di desa terpencil di kaki gunung
Hati tak kuasa membendung cerita
Nafsu merengek minta dipenuhi
Satu demi satu tokoh cerita bermunculan
Membawa warna cerita sendiri
Membungkus rapat swaraswara sumbang penonton
Sudah kubilang sejak awal
Diam sore itu mengusik hati
Namun,
Hatipun tak kunjung bereaksi
Diam semakin membisu
Diterpa angin dingin yang menjatuhkan dedaunan kering
Suka hati memang sulit diterka
Dukanya tak terselami
Tapi hati yang ini memang tak mau terjamah
Diamnya hanya suamsuam kuku
Dingin tidak, panas pun bukan
Dimanakah rasa akan ilusi itu berada ?
Selagi dia masih merasai bumi
Bernaung di kolong langit
Pastilah punya tempat untuk singgah
Ataukah mungkin dia hinggap di pucuk cemara itu ?
Ilusi berpuluh tahun kembali segar
Layaknya pertunjukkan layar tancap
Di desa terpencil di kaki gunung
Hati tak kuasa membendung cerita
Nafsu merengek minta dipenuhi
Satu demi satu tokoh cerita bermunculan
Membawa warna cerita sendiri
Membungkus rapat swaraswara sumbang penonton
Sudah kubilang sejak awal
Diam sore itu mengusik hati
Namun,
Hatipun tak kunjung bereaksi
Diam semakin membisu
Diterpa angin dingin yang menjatuhkan dedaunan kering
Suka hati memang sulit diterka
Dukanya tak terselami
Tapi hati yang ini memang tak mau terjamah
Diamnya hanya suamsuam kuku
Dingin tidak, panas pun bukan
Dimanakah rasa akan ilusi itu berada ?
Selagi dia masih merasai bumi
Bernaung di kolong langit
Pastilah punya tempat untuk singgah
Ataukah mungkin dia hinggap di pucuk cemara itu ?
| [agoengdegandjoeran_onpangping] |
Ambarawa, Jawa Tengah
19 Juli 2005
airdara
19 Juli 2005
airdara
0 Response to "Suatu Sore di Suatu Tempat"
Posting Komentar