Selendang Beludru Biru

Selendang Beludru Biru

Senja datang membawa senandung kerinduan yang kejam
Menerpa selendang beludru biru
Melayang tersangkut kursi kayu di ruang tamu.
Entah sengaja atau tidak sengaja,
Ia menjatuhkan selendang beludru biru;
Tak pernah kutanyakan pada senja saat itu.

Aku pun tak pernah berpikir sebelumnya,
Mengapa senja selalu memusuhi selendang beludru biru?
Seakan senja tidak mau melihat beludru itu tetap biru.
Dapat selalu dipastikan,
Ia akan datang lebih awal.
Kemudian, beraksi,
Menyemburkan kemilau warna senjanya
Menentang semua warna lain yang mungkin muncul
Tidak pernah mau tahu akan kemungkinan lain
Buta hak dan batil
Jauh dari fiqih dan aqidah
Mau menang sendiri, tidak tahu malu,
Bahkan menggandeng serdadu taufan
Dan badai kejam tak beradab
Mereka disewa untuk melanggengkan satu warna,
Satu suara,
Satu paksaan,
Satu lagu wajib atau pilihan wajib.
Akhirnya, pergi menghilang ditelan gelapnya malam.

Hari berikutnya,
Ia akan datang lagi
Dan menjalankan aksi yang sama
Sampai kurasakan bahwa selendang beludru biru,
Yang tak tahu apa-apa,
Yang belum pernah berurusan dengan senja,
Yang tak pernah berteriak menentang,
Yang hanya menampilkan kebiruan dirinya
Diterpa tanpa ada kompromi oleh kolaborasi senja-taufan-badai tak beradab

Andai saja semua ini salah!
[www.etsy.com]
Kampung Ambon, Jakarta Timur
6 Juli 2004
airdara

0 Response to "Selendang Beludru Biru"

Poems • ReflectionsStoriesCrumbsContact
free hit counters